MENU UTAMA

VAKSINASI

Visitors

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini167
mod_vvisit_counterKemarin1127
mod_vvisit_counterMinggu ini1294
mod_vvisit_counterBulan ini11933
mod_vvisit_counterSemua1202626

Domain dan Hosting

Klik Disini

Newsflash

Penyakit Flu Burung dan Buah Merah

Penyakit flu burung merupakan penyakit yang menyerang pada unggas.

Gejala unggas yang terkena penyakit ini adalah mengalami demam yang tinggi lalu mengakibatkan kematian.

Obat untuk menyembuhkan penyakit ini sebenarnya sudah ditemukan yaitu vaksin AI ( Avian Influenza).

Bila penyakit ini menyerang peternakan unggas, maka akan berakibat fatal, karena semua unggas yang berada dalam peternakan akan tertular semuanya.

Selain dengan vaksin Al untuk pengobatan penyakit tersebut, seorang dosen dari Universitas Cendrawasih Papua yaitu Dr. Made Budi MS.

Telah mengadakan uji melalui sari "Buah Merah" dalam pengobatan flu burung ini dan hasilnya cukup memuaskan yaitu dari 20 ekor ayam yang terkena flu burung 19 ekor mengalami kesembuhan dan hanya 1 ekor yang mati.


Ciri-ciri sari Buah Merah hasil racikan Dr. Made Budi MS yaitu, tidak berbau asam, aroma netral, warna gelap (merah), kandungan air nol (0), endapan pasta nol, bilangan iod tinggi dan nilai peroksida nol(0)sampai 0,5. Titik didih sari buah merah rendah.

 
Mahkota Dewa

 

SEJAK ZAMAN DULU Mahkota Dewa digunakan untuk me­nyembuhkan berbagai penyakit, seperti lever, kanker, jantung, ken­cing manis, asam urat, rematik, ginjal, dan tekanan darah tinggi.Sebagai obat luar, buah dan bijinya berkhasiat untuk mengatasi jerawat, gatal kulit hingga eksim.

Dalam wayang purwo, perdu setinggi 5 meter ini dikeramatkan. Siapa pun yang akan memetik buahnya harus menyembah terebih dahulu. Bagi prajurit yang akan pergi ke medan laga wajib memakan buah ini agar sehat, kuat, dan selamat.


Dulu oleh para bangsawan Jawa, Mahkota Dewa dikenal de­ngan nama Makuto Dewo, Makuto Ratu, atau Makuto Rojo, dan ha­nya bisa dijumpai di lingkungan keraton Jogya dan Solo (orang Cina menamakannya dengan Pau yang artinya obat pusaka). Tetapi ka­rana buahnya besar, sebagian ahli botani lebih suka memberikan nama latin Phaleria Macrocarpa (macro: besar). Asal tanaman ini belum diketahui, namun menilik nama botaninya Phaleria Papuana dan termasuk famili Thymelaceae, diperkirakan tanaman ini berasal dari Tanah Papua, Irian Jaya. Entah bagaimana, dalam 5 tahun ter­akhir ini Mahkota Dewa popular kembali sebagai tanaman obat yang berkhasiat mangobati berbagai penyakit. Popuaritasnya tidak hanya terbatas di daerah Jawa, tetapi meluas hingga ke Malaysia.

Read more text
 

Newsflash

Kaitan Hiperlipidemia dgn terjadinya Artherosclerosis dan Hipertensi

Hiperlipidemia adalah keadaan meningkatnya kadar lipid darah dalam lipoprotein (kolesterol dan trigliserida). Hal ini berkaitan dengan intake lemak dan karbohidrat dalam jumlah yang berlebihan dalam tubuh. Keadaan tersebut akan menimbulkan resiko terjadinya artherosclerosis dan hipertensi.

 Artherosclerosis adalah keadaan terbentuknya bercak yang menebal dari dinding arteri bagian dalam dan dapat menutup saluran dari aliran darah dalam arteri koronaria. Bila penyempitan terjadi pada pembuluh darah jantung dapat menyebabkan Penyakit Jantung Koroner.Pembuluh darah koroner yang menderita artherosklerosis selain menjadi tidak elastis, juga mengalami penyempitan sehingga tahanan aliran darah dalam pembuluh koroner juga naik. Naiknya tekanan sistolik karena pembuluh darah tidak elastis serta naiknya tekanan diastolik akibat penyempitan pembuluh darah disebut juga tekanan darah tinggi atau hipertensi. 
CARA AMAN MEMBERSIHKAN ORGAN KEWANITAAN PDF Cetak Email
Penilaian User: / 1
TerburukTerbaik 
Berita - Latest
Wanita tak disarankan menggunakan tisu setelah buang air kecil. lebih baik menyiapkan handuk kecil sendiri.

Saban kali ke kamar kecil, Citra selalu menyempatkan diri mengeringkan organ kewanitaannya dengan tisu kering. Bahkan saat ke luar rumah, tak jarang wanita 33 tahun ini menyiapkan tisu sendiri untuk berjaga-jaga jika di toilet yang ia masuki tak tersedia tisu. Alasan di balik penggunaan tisu kering sangat sederhana, yakni menghindari kelembapan akibat sisa-sisa air yang baru saja dipakai untuk membersihkan organ penting tersebut. Maklum, kelembapan berpotensi mengundang masalah, termasuk datangnya jamur yang bikin gatal dan tak nyaman.

“Kalau cairan pembersih khusus seperti yang banyak diiklankan, saya enggak pernah menggunakan,“ kata wartawati di sebuah stasiun televisi swasta ini. “Alhamdulillah, saya tidak punya masalah dengan organ kewanitaan,“ ujar Citra, menambahkan.

Kebiasaan menggunakan tisu kering yang tersedia di toilet milik perkantoran atau pusat-pusat perbelanjaan tentu bukan hanya dilakukan Citra. Banyak wanita melakukan kebiasaan yang sama. Adapun cairan pembersih khusus biasanya digunakan setelah kaum Hawa selesai mandi. Padahal, menurut Yasmina Ismail, dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Jakarta, kebiasaan seperti itu tak baik untuk kesehatan organ kewanitaan.

“Tisu terbuat dari serat yang rapuh dan mudah luruh, sehingga bisa menempel ke organ kewanitaan,“ kata dia, saat membahas masalah kesehatan organ kewanitaan di kantor Tempo, di Palmerah, Jakarta, Jumat lalu. Dalam waktu 4 jam, ia menambahkan, “Bagian tisu yang luruh atau rapuh tersebut bisa menjadi media yang baik bagi perkembangan jamur dan bakteri. Itu justru berbahaya bagi kesehatan organ kewanitaan.“

Tidak hanya sifat bahannya yang rapuh, tisu juga mengandung bahan kimia berupa pemutih. Bahan ini bisa bereaksi di dalam vagina, sehingga penggunaan yang terlalu sering berpotensi membahayakan organ tersebut. “Lebih baik mengeringkan organ kewanitaan dengan handuk,“ ujar Yasmina.

Handuk memiliki kelebihan, yakni seratnya yang tidak mudah luruh laiknya tisu. Karena itu, tidak ada salahnya bila perempuan membawa persediaan handuk kecil demi kebersihan organ kewanitaannya, meski harus diakui, kata Yasmina, “Membawa handuk kecil lebih dari satu cukup merepotkan.“

Selain kebiasaan menggunakan tisu setelah buang air kecil, kebiasaan menggunakan cairan pembersih vagina untuk membersihkan organ kewanitaan juga harus dihindari.
Maklum, menurut Yasmina, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah ihwal apakah cairan pembersih vagina tersebut higienis dan steril. “Yang cukup mengherankan, masih banyak yang iklan cairan pembersih vagina yang mengaku higienis dan steril,“ ujarnya.
Menurut dia, bahan kimiawi yang terkandung dalam cairan pembersih vagina juga tak seluruhnya dicantumkan dalam kemasan. Padahal ada beberapa zat, seperti pewarna dan pewangi, yang menurut Yasmina justru tidak baik bagi kesehatan. “Satu zat kimiawi yang pasti dicantumkan cairan pembersih vagina adalah povidone iodine. Lalu sisanya apa, kita tidak tahu,“ ujar Yasmina.

Agar tak menimbulkan masalah di kemudian hari, ia menganjurkan agar perempuan tidak menggunakan cairan pembersih vagina. Apalagi, keseimbangan asam-basa antara cairan pembersih dan vagina sangat berbeda. “Keasaman vagina 3, sedangkan cairan pembersih itu bukan asam, melainkan basa. PHnya bisa sampai 7,“ ujar Yasmina.

Dengan keadaan asam-basa yang jauh berbeda ini, cairan pembersih tidak akan membersihkan bakteri dengan baik. Cairan itu justru menghilangkan sel berguna yang ada di dalam organ kewanitaan. Lalu apa langkah terbaik untuk membersihkan organ kewanitaan? “Cukup bersihkan dengan air bersih saat mandi atau sehabis buang air,“ ujarnya.

Selain air, pembersih organ kewanitaan yang paling aman, kata Yasmina, adalah pembersih alami yang berasal dari daun sirih. Rebusan air daun sirih sangat ampuh untuk membunuh bakteri dan kuman yang ada di organ kewanitaan. “Rebusan daun sirih adalah antibiotik alami yang paling dianjurkan saat ini,“ ujarnya.

CHETA NILAWATY | DWI WIYANA