MENU UTAMA

VAKSINASI

Visitors

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini195
mod_vvisit_counterKemarin1135
mod_vvisit_counterMinggu ini3565
mod_vvisit_counterBulan ini16511
mod_vvisit_counterSemua969097

Domain dan Hosting

Klik Disini

Newsflash

Penyakit Flu Burung dan Buah Merah

Penyakit flu burung merupakan penyakit yang menyerang pada unggas.

Gejala unggas yang terkena penyakit ini adalah mengalami demam yang tinggi lalu mengakibatkan kematian.

Obat untuk menyembuhkan penyakit ini sebenarnya sudah ditemukan yaitu vaksin AI ( Avian Influenza).

Bila penyakit ini menyerang peternakan unggas, maka akan berakibat fatal, karena semua unggas yang berada dalam peternakan akan tertular semuanya.

Selain dengan vaksin Al untuk pengobatan penyakit tersebut, seorang dosen dari Universitas Cendrawasih Papua yaitu Dr. Made Budi MS.

Telah mengadakan uji melalui sari "Buah Merah" dalam pengobatan flu burung ini dan hasilnya cukup memuaskan yaitu dari 20 ekor ayam yang terkena flu burung 19 ekor mengalami kesembuhan dan hanya 1 ekor yang mati.


Ciri-ciri sari Buah Merah hasil racikan Dr. Made Budi MS yaitu, tidak berbau asam, aroma netral, warna gelap (merah), kandungan air nol (0), endapan pasta nol, bilangan iod tinggi dan nilai peroksida nol(0)sampai 0,5. Titik didih sari buah merah rendah.

 
Mahkota Dewa

 

SEJAK ZAMAN DULU Mahkota Dewa digunakan untuk me­nyembuhkan berbagai penyakit, seperti lever, kanker, jantung, ken­cing manis, asam urat, rematik, ginjal, dan tekanan darah tinggi.Sebagai obat luar, buah dan bijinya berkhasiat untuk mengatasi jerawat, gatal kulit hingga eksim.

Dalam wayang purwo, perdu setinggi 5 meter ini dikeramatkan. Siapa pun yang akan memetik buahnya harus menyembah terebih dahulu. Bagi prajurit yang akan pergi ke medan laga wajib memakan buah ini agar sehat, kuat, dan selamat.


Dulu oleh para bangsawan Jawa, Mahkota Dewa dikenal de­ngan nama Makuto Dewo, Makuto Ratu, atau Makuto Rojo, dan ha­nya bisa dijumpai di lingkungan keraton Jogya dan Solo (orang Cina menamakannya dengan Pau yang artinya obat pusaka). Tetapi ka­rana buahnya besar, sebagian ahli botani lebih suka memberikan nama latin Phaleria Macrocarpa (macro: besar). Asal tanaman ini belum diketahui, namun menilik nama botaninya Phaleria Papuana dan termasuk famili Thymelaceae, diperkirakan tanaman ini berasal dari Tanah Papua, Irian Jaya. Entah bagaimana, dalam 5 tahun ter­akhir ini Mahkota Dewa popular kembali sebagai tanaman obat yang berkhasiat mangobati berbagai penyakit. Popuaritasnya tidak hanya terbatas di daerah Jawa, tetapi meluas hingga ke Malaysia.

Read more text
 

Newsflash

Cegahlah serangan Jantung mulai sekarang

Selama ini Penyakit Jantung Koroner (PJK) memang umumnya ditemukan di usia tua. Namun kini ada pergeseran kejadian penyakit ini dari usia tua ke usia lebih muda. Kejadian serangan jantung bisa saja terjadi pada kita jika kita tidak menerapkan pola hidup tidak sehat di usia muda.

Rokok Faktor Utama

Hingga saat ini PJK adalah pembunuh nomor satu di dunia. Di Amerika Serikat, satu dari lima orang mati karena penyakit ini. Belakangan angka kejadian penyakit ini juga meningkat di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia. Di negara kita, penyakit ini pun menduduki ranking satu sebagai penyebab kematian.
Organisasi Kesehatan Dunia WHO pernah melakukan penelitian dalam sebuah proyek raya yang dinamai Multinational Monitoring of Trends and Determinants in Cardiovascular Disease (MONICA) selama satu dasawarsa, melibatkan populasi dari 21 negara. Kesimpulan penelitian ini: serangan jantung pada usia di bawah 40 tahun sebagian besar (sekitar 80 %) disebabkan oleh salah satu faktor risiko mayor penyakit ini yaitu kebiasaan merokok.

Dalam bahasa medis, serangan jantung lebih dikenal sebagai infark miokard akut (acute myocardial infarction, AMI). Pada kondisi ini, aliran darah ke bagian daerah tertentu di jantung mengalami gangguan sehingga menyebabkan sel-sel jantung pada daerah yang terganggu ini mati. Gangguan ini biasanya disebabkan oleh penumpukan plak lemak pada pembuluh darah arteri jantung yaitu arteria koronaria sehingga menyebabkan penyempitan.
Ketika serangan jantung terjadi, gejalanya antara lain nyeri di dada, terutama pada bagian kiri yang dapat menjalar hingga ke pundak sebelah kiri, sesak napas, mual, muntah, dan keringat dingin. Ada-pun faktor-faktor risiko mayor (penyebab utama) serangan jantung adalah diabetes, merokok, obesitas atau kegemukan dengan indeks masa tubuh lebih dari 30 kg/m2, kadar low density lipoprotein (LDL, kolesterol jahat) tinggi, trigliserida (lemak) tinggi, stres, dan konsumsi alkohol.
Kebiasaan merokok merupakan salah satu faktor risiko penting di kalangan orang muda di bawah 40 tahun. Mengapa begitu? Rokok membantu pembentukan formasi plak lemak pada dinding pembuluh darah terutama pada arteria koronaria di jantung. Dengan kata lain, rokok membuat proses penebalan pembuluh darah menjadi lebih cepat. Itu sebabnya perokok memiliki risiko lima kali lebih besar dibandingkan dengan yang bukan perokok.
Selain rokok, faktor penting lainnya gadalah kegemukan, kebiasaan makan-makanan tinggi lemak dan kolesterol, serta kurang berolahraga. Ini semua faktor penting yang makin sering kita temukan pada orang muda zaman sekarang. Merokok, tubuh gendut, makan tidak terkontrol, jarang berolahraga.
Selain mempengaruhi produktivitas, penyakit jantung juga dapat menyebabkan kematian mendadak. Mati muda. Jika penderita berhasil selamat melewati serangan jantung, maka persoalannya tidak lantas usai. Komplikasi setelah serangan jantung bisa saja menghantui. Salah satu bentuk komplikasi adalah gagal jantung. Dalam kondisi ini, jantung tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Komplikasi lain adalah gangguan kontraksi jantung seperti regurgitasi (gangguan katup jantung) dan aritmia (gangguan denyut jantung). Tak hanya itu, serangan jantung ulangan pun bisa saja terjadi.

 

Pengobatan Seumur Hidup

Terlepas dari perkara komplikasi, pengobatan penyakit ini membutuhkan biaya yang menguras dompet. Selain pengobatan terhadap faktor risiko, diperlukan juga pencegahan dengan obat-obatan yang mungkin harus dikonsumsi seumur hidup. Di Amerika Serikat, penyakit ini tidak mendapatkan perlindungan asuransi kesehatan tenaga kerja. Bahkan, sebagian perusahaan besar menolak memperkerjakan orang yang pernah terkena serangan jantung. Pertimbangannya, biaya perawatan kesehatannya tidak sebanding dengan produktivitas kerja yang dihasilkan oleh pasien ini. Bisa dibayangkan jika ini terjadi pada kita. Ditolak bekerja di usia produktif. Salah satu metode pengobatan yang paling populer untuk mencegah terjadinya serangan ulangan adalah operasi bypass. Operasi ini inembutuhkan biaya yang terhitung cukup mahal untuk kebanyakan orang Indonesia, minimal Rp 150 juta. Ini belum termasuk obat-obatan selama perawatan berikut obat pascaoperasi. Selain operasi bypass, metode lain untuk pencegahan serangan ulangan adalah pemasangan cincin stent, angioplasti balon, dan transplantasi jantung. Metode terakhir ini belum bisa dilakukan di Indonesia.

Osteoartritis dan Artritis Reurnatoid - Perbedaan Patogenesis, Gambaran Klinis dan Terapi PDF Cetak Email
Penilaian User: / 0
TerburukTerbaik 
Penyakit Umum - Umum
Osteoartritis (OA) dan artritis reumatoid (RA) merupakan jenis penyakit reumatik yang sering dijumpai dalam praktek. Seperti diketahui hingga kini dikenal lebih dari 100 jenis penyakit reumatik, tetapi hanya beberapa di antaranya yang sering dijumpai, termasuk kedua penyakit yang tersebut di atas.
Dahulu dua jenis penyakit yang berbeda ini sering dianggap sebagai satu penyakit, dan sering terjadi salah diagnosis sehingga merugikan si penderita. Di samping itu kedua penyakit ini dapat ditemukan bersama-sama/sekaligus pada seorang pasien, sehingga makin membingungkan dokter pemeriksa. Pada artikel ini akan dijelaskan secara praktis bagaimana membedakan kedua jenis penyakit ini dari segi patogenesis, gambaran klinik dan penatalaksanaan.
  • PERBEDAAN DALAM PATOGENESIS
Patogenesis keduanya jelas berbeda. OA yang dikenal sebagai penyakit sendi degeneratif mempunyai kelainan primer pada rawan sendi (cartilage),, sedangkan RA mempunyai kelainan primer pada sinovia. Secara mudah dapat dijelaskan bahwa pada OA, proses degeneratif pada awalnya menyebabkan perubahan biokimiawi pada rawan sendi yang akhirnya menyebabkan integritas rawan sendi terganggu, sehingga akan terjadi penipisan rawan sendi sampai akhirnya rawan sendi habis. Perubahan dan awal sampai akhir berlangsung sangat lambat, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tercapainya stadium akhir yang ditandai dengan deformitas sendi. Gejala inflamasi sendi tidak mendominasi perjalanan penyakit, inflamasi baru tampak bila terjadi pelepasan serpihan rawan sendi ke dalam rongga sendi.
Pada RA perubahan patologik yang menonjol adalah inflamasi sinovia (sinovitis). Penyebab sinovitis ini belum diketahui dengan pasti, tetapi faktor imunologik sangat berperan.
Akibat sinovitis akan terjadi keadaan:
1) Dilepaskannya berbagai macam komponen destruktif akibat proses inflamasi ke dalam rongga sendi yang dapat mengakibatkan kerusakan rawan sendi.
2) Terjadi hiperplasi jaringan granulasi akibat sinovitis, Sehingga menebal dan membentuk pannus. Pannus ini sangat destruktif, akan menyebabkan pula kerusakan rawan sendi. Akibat kedua keadaan tadi maka gejala inflamasi sendi akan mendominasi perjalanan penyakit, penyakit sangat progresif dan dalam waktu singkat sudah terjadi deformitas sendi.
Dengan mengenal patogenesis kedua penyakit tersebut sebenarnya secara kasar dengan segera dapat dibedakan, tetapi pada beberapa keadaan, terutama pada stadium awal, terdapat kendala untuk membedakannya; dengan demikian diperlukan pengamatan klinik, laboratorik dan radiologik yang lebih cermat.
 
  • PERBEDAAN GAMBARAN KLINIK
1) Umur, jenis kelamin, onset penyakit OA biasanya dimulai pada usia sekitar 50 tahun, walaupun kadang-kadang dapat ditemukan pada usia yang lebih muda, sedangkan onset penyakit RA umumnya lebih muda yaitu sekitar 30-50 tahun, walaupun tidak jarang baru dijumpai pada usia lebih tua. Kedua penyakit lebih sering ditemukan pada wanita, tetapi pada RA wanita lebih dominan dengan perbandingan wanita : pria = 3: 1. Onset kedua penyakit terjadi secara bertahap, makin lama makin berat, RA biasanya berjalan lebih progresif sedangkan OAberlangsung lebih lambat.
2) Keluhan penderita Sebagaimana halnya dengan penyakit reumatik pada umumnya, maka keluhan penderita pada kedua penyakit tersebut me- liputi nyeri sendi, kaku sendi, bengkak sendi dan gangguan fungsi. Pada OA nyeri biasanya dangkal (dull-pain), penderita mengeluh linu dan pegal; sedangkan pada RA nyeri terasa lebih tajam dan berat (sharp-pain).
Penderita RA biasanya lebih cepat pergi ke dokter karena nyerinya yang lebih hebat, sedangkan penderita OA biasanya terlebih dahulu berusaha mengobati sendiri misalnya dengan jamu, diurut atau makan obat bebas. Pada OA nyeri paling berat pada malam hari, pada pagi hari masih nyeri tetapi lebih ringan dan membaik pada siang hari. Pada RA nyeri paling dirasakan pada pagi hari disertai kaku sendi, membaik pada siang hari dan sedikit lebih berat pada malam hari. Kaku sendi merupakan rasa seperti diikat, lebih terasa pada pagi hari dan berkurang setelah digerak-gerakkan, kaku pagi hari (morning stiffness) pada RA terasa lebih berat dan umumnya berlangsung dalam waktu yang lama (lebih dari 1 jam), sedangkan pada OA berlangsung ringan dan singkat, umumnya kurang dari 30 menit.
Bengkak sendi dapat terjadi pada kedua penyakit, tetapi pada RA biasanya lebih menonjol akibat pembengkakan jaringan lunak (soft tissue swelling) dan sinovitis, sedangkan pada OA terjadi bila ada inflamasi (akibat pelepasan serpihan rawan sendi ke rongga sendi) atau akibat efusi sendi. Gangguan fungsi terjadi akibat inflamasi atau akibat deformitas sendi yang dapat terjadi pada kedua penyakit.
Keluhan sistemik seperti demam, malas, kelelahan, kelemahan otot dan penurunan berat badan hanya dijumpai pada penderita RA.
3) Pemeriksaan jasmani dan sendi yang terserang Pemeriksaan jasmani pada OA mendapatkan tanda radang yang tidak nyata (kecuali bila ada inflamasi), tulang sekitar sendi tampak membesar (bony enlargement), nyeri gerak, krepitus (bunyi gemeretak bila sendi digerakkan) dan pada stadium lanjut dapat ditemukan deformitas atau subluksasi. Pada RA umumnya didapatkan tanda inflamasi yang nyata, nyeri tekan, pembengkakan jaringan lunak (soft-tissue swelling), sendi terabapanas, terbatasnyagerak sendi, sendi yang terserang bilateral simetris, atrofi otot sekitar sendi dan pada stadium lanjut tenjadi deformitas yang khas dari subluksasi. Pembengkakan sendi PIP membenikan gambaran fusiform atau spindle shape.
Dengan melihat sendi yang terserang maka dapat dibedakan pada OA ialah sendi Distal Interfalang (DIP), Proksimal Inter-falang (PIP), Metakarpofalangeal I (MCP I); pada kaki yaitu Metatarsofalangeal I (MTP I) dan lutut, pinggul, vertebra lumbal dan servikal. Sedan pada RA, maka sendi DIP tidak pernah terserang, yang terserang ialah sendi PIP, MCP, pergelangan tangan, siku, bahu, kaki (MTP dan sendi subtalar), pergelangan kaki, lutut, pinggul dan vertebra servikal (hanya Cl dan C2).
Karena beberapa sendi merupakan predileksi yang sama, makapada stadium awal agak sukar membedakannya, secara gampang dapat dikatakan RA menyerang lebih banyak sendi, simetris dan tanda inflamasi sendi lebih menonjol. Deformitas sendi pada RA lebih cepat terjadi, sedangkan pada OA lebih lambat. Beberapa deformitas khas untuk RA, misalnya pada jari tangan didapatkan swan-neck-finger, jari boutonniere dan deviasi ke arah ulnar (ulnar deviation) dan atrofi otot interossei. Sedangkan pada OA dapat ditemukan pembentukan osteofit pada medial sendi DIP yang disebut nodus Heberden dan pada sendi PIP disebut nodus Bouchard, dan kadang- kadang membenkan gambaran deformitas snake-like.
4. Manifestasi ekstraartikuler Keadaan ini merupakan gangguan perubahan yang tenjadi di luar sendi yang sering dijumpai pada penyakit sendi. Pada OA tidak pernah ditemukan adanya manifestasi ekstraantikuler, se- baliknya pada RA maka keadaan ini sering dijumpai. Manifestasi esktraantikuler pada RA tersebut antara lain nodul reumatoid di kulit (nodus subkutan), nodul di jantung dan paru, vaskulitis, episkienitis, miositis, limfadenopati, sindrom Felty dan sindrom Sjogren.
  • PERBEDAAN GAMBARAN LABORATORIK
OA umumnya bukan merupakan penyakit inflamasi sistemik , sehingga gambaran laboratoniknya dalam batas normal. Laju endap darah tidak pernah meningkat, cairan sendinya menunjukkan gambaran yang normal. RA menupakan penyakit inflamasi sistemik, sehingga didapatkan peninggian LED, anemia ringan. Fakton reumatoid positif dan cairan sendi menunjukkan gambaran inflamasi.
  • PERBEDAAN GAMBARAN RADIOLOGI
Pemeriksaan radiologik dapat membantu membedakan kedua penyakit ini, tetapi sulit karena pada stadium awal belum ditemukan perubahan. Perubahan radiologik pada OA lebih menunjukkan adanya perubahan degenenatif yang meliputi pembentukan osteofit pada tepi sendi, sklerosis tulang subkondral, pembentukan kista dan penyempitan celah sendi. Pada RA stadium awal ditemukan adanya pembengkakan jaringan lunak dan osteoporosis subkondnal (juxta-artikuler).
Pada stadium lebih lanjut ditemukan gambaran permukaan sendi yang tidak nata akibat enosi sendi, penyempitan celah sendi, subluksasi dan akhirnya ankilosis sendi.
  • PERBEDAAN TERAPI
Sebenannya pninsip penatalaksanaan semua penyakit sendi hampir sama yaitu meliputi:
1) Pnoteksi sendi
2) Diet
3) Medikamentosa
4) Rehabilitasi
5) Pembedahan
6) Psikoterapi Dengan demikian penatalaksanaan RA prinsipnya samapula, hanya. ada kekhususan tertentu.
Penggunaan medikamentosa pada penyakit reumatik dapat dibagi dalam:
1. Obat analgetik
2. Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS)
3. Disease Modifying Anti Rheumatic Drugs (DMARD)
4. Kortikosteroid sistemik dan suntikan intra-artikuler.
Prinsip penggunaan analgetik dan OAINS pada OA dan RA adalah sama. Obat ini berguna untuk menekan nyeri dan inflamasi, tetapi tidak dapat menghentikan perjalanan penyakit OA dan RA, jadi lebih bersifat simptomatik. Walaupun demikian obat ini masih diperlukan karena dapat mengurangi keluhan penderita sehinggfa tetap dapat melakukan aktifitas sehari-hari.
Penderita RA umumnya lebih sering dan lebih banyak menggunakan obat ini karena keluhan inflamasi sendinya lebih menonjol, dengan demikian efek samping juga lebih sering dijumpai. Hingga saat ini DMARD baru ditemukan untuk penderita RA. Untuk OA belum ditemukan obat yang dapat menekan perjalanan penyakitnya. DMARD dapat menekan perjalanan penyakit RA sampai tahap remisi, penderita selama beberapa waktu dapat bebas dari keluhan inflamasi sendi tanpa menggunaKan obat analgetik atau OAINS, DMARD membu- tuhkan waktu yang cukup lama, sekitar 6 bulan, agar dapat mencapai efek yang diharapkan, oleh karena itu pada tahap awal kombinasi DMARD dengan OAINS sangat dianjurkan. DMARD yang sering digunakan untuk RA ialah Hidroksiklorokuin, Ga- ram emas, D-pennicilamin, salazopirin dan obat imunosupresif. Kortikosteroid sistemik tidak dianjurkan untuk penderita OA, karena lebih banyak efek samping dan efek terapi yang diharapkan. Pada RA,, kortikosteroid sistemik ternyata tidak dapat menghentikan progresifitas penyakit, sehingga pengguna
annya sebaiknya dibatasi, hanya bersifat simptomatik saja. Penggunaan kortikosteroid hanya pada kasus berat, yang tidak responsif dengan OAINS dan yang mempunyai kontraindikasi mutlak dengan OAINS. Pada kasus berat yang ditandai dengan demam tinggi, anemia, berat badan menurun dengan cepat, neuropati, vaskulitis, perikarditis, pleuritis, skieritis dan sindrom Felty biasanya diberikan dosis tinggi, yang segera diturunkan bertahap bila gejala berkurang.
Pada penderita yang tidak responsif dengan OAINS, maka dosis yang diberikan biasanya dosis rendah : metilprednisolon 5-7,5 mg/hari.
Suntikan kortikosteroid intraartikuler dapat dipertimbangkan pada penderita RA dan OA yang pada 1-2 sendinya masih tetap meradang, pemberian tidak boleh terlalu sering dan hati-hati pada sendi penopang berat badan.
  • KESIMPULAN
Osteoartritis dan Artsitis Reumatoid merupakan dua penyakit yang berbeda, walaupun keduanya memberikan gejala yang hampir sama. Kedua penyakit ini mempunyai perjalanan penyakit, penatalaksanaan dan prognosis yang sangat berbeda, Sehingga pengenalan penyakit ini dengan baik akan menghindari pengobatan yang kurang tepat, baik berlebihan (overtreatment) atau kurang (undertreatment).
  • KEPUSTAKAAN
1. Schumacher HR. Primer on the Rheumatic Disease. Ninth Ed. Arthritis Foundation. Atlanta GA. 1988.
2. Harry lsbagio. Penyakit Reutnatik 1, Yayasan Penerbit lDl, Jakarta, 1992.
3. MoskowitzRD. Clinical and Laboratory Findings in Osteoarthritis. In McCarty Diet al (eds).Arthritis andAllied Condition. A Textbook of Rheumatology. Twelfth ed Philadelphia., London: Lea & Fcbiger.
4. Harris ED. The Clinical features of Rheumatoid Arthritis. In Kelley WN (ed): Textbook Rheumatology. Third ed. Philadelphia: W.B. Saunders 1989. p. 943-74.
Sumber : Cermin Dunia Kesehatan.