MENU UTAMA

VAKSINASI

Visitors

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini173
mod_vvisit_counterKemarin1127
mod_vvisit_counterMinggu ini1300
mod_vvisit_counterBulan ini11939
mod_vvisit_counterSemua1202632

Domain dan Hosting

Klik Disini

Newsflash

Penyakit Flu Burung dan Buah Merah

Penyakit flu burung merupakan penyakit yang menyerang pada unggas.

Gejala unggas yang terkena penyakit ini adalah mengalami demam yang tinggi lalu mengakibatkan kematian.

Obat untuk menyembuhkan penyakit ini sebenarnya sudah ditemukan yaitu vaksin AI ( Avian Influenza).

Bila penyakit ini menyerang peternakan unggas, maka akan berakibat fatal, karena semua unggas yang berada dalam peternakan akan tertular semuanya.

Selain dengan vaksin Al untuk pengobatan penyakit tersebut, seorang dosen dari Universitas Cendrawasih Papua yaitu Dr. Made Budi MS.

Telah mengadakan uji melalui sari "Buah Merah" dalam pengobatan flu burung ini dan hasilnya cukup memuaskan yaitu dari 20 ekor ayam yang terkena flu burung 19 ekor mengalami kesembuhan dan hanya 1 ekor yang mati.


Ciri-ciri sari Buah Merah hasil racikan Dr. Made Budi MS yaitu, tidak berbau asam, aroma netral, warna gelap (merah), kandungan air nol (0), endapan pasta nol, bilangan iod tinggi dan nilai peroksida nol(0)sampai 0,5. Titik didih sari buah merah rendah.

 
Mahkota Dewa

 

SEJAK ZAMAN DULU Mahkota Dewa digunakan untuk me­nyembuhkan berbagai penyakit, seperti lever, kanker, jantung, ken­cing manis, asam urat, rematik, ginjal, dan tekanan darah tinggi.Sebagai obat luar, buah dan bijinya berkhasiat untuk mengatasi jerawat, gatal kulit hingga eksim.

Dalam wayang purwo, perdu setinggi 5 meter ini dikeramatkan. Siapa pun yang akan memetik buahnya harus menyembah terebih dahulu. Bagi prajurit yang akan pergi ke medan laga wajib memakan buah ini agar sehat, kuat, dan selamat.


Dulu oleh para bangsawan Jawa, Mahkota Dewa dikenal de­ngan nama Makuto Dewo, Makuto Ratu, atau Makuto Rojo, dan ha­nya bisa dijumpai di lingkungan keraton Jogya dan Solo (orang Cina menamakannya dengan Pau yang artinya obat pusaka). Tetapi ka­rana buahnya besar, sebagian ahli botani lebih suka memberikan nama latin Phaleria Macrocarpa (macro: besar). Asal tanaman ini belum diketahui, namun menilik nama botaninya Phaleria Papuana dan termasuk famili Thymelaceae, diperkirakan tanaman ini berasal dari Tanah Papua, Irian Jaya. Entah bagaimana, dalam 5 tahun ter­akhir ini Mahkota Dewa popular kembali sebagai tanaman obat yang berkhasiat mangobati berbagai penyakit. Popuaritasnya tidak hanya terbatas di daerah Jawa, tetapi meluas hingga ke Malaysia.

Read more text
 

Newsflash

Antioksidan Untuk Kardiovaskular & Kanker

 

Peran positif antioksidan terhadap penyakit kanker dan kasdivaskular terutama yang diakibatkan oleh aterosklerosis memang cukup sering didiskusikan. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, kini dikeluarkanlah rekomendasi untuk lebih banyak mengonsumsi sayur dan buah untuk menghindari penyakit degeneratif.

Menkes: Jangan Beri Susu Formula untuk Korban Merapi dan Mentawai PDF Cetak Email
Penilaian User: / 0
TerburukTerbaik 
Berita - Latest
Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih mengimbau kepada para dermawan yang membantu para korban bencana letusan Gunung Merapi dan tsunami Mentawai untuk tidak memberikan susu formula bayi.
.
Hal itu disampaikan Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan Tritarayati dalam siaran persnya yang disampaikan ke Republika, Kamis (28/10). Sehubungan dengan hal itu pemerintah juga akan memperketat pengawasan terhadap sumbangan dan distribusi susu formula kepada keluarga-keluarga yang terkena dampak bencana alam di dua tempat baru-baru ini.
”Kepada ibu-ibu yang mempunyai bayi, berikanlah air susu ibu (ASI) saja sampai bayi berusia enam bulan. Pemberian ASI dapat dilanjutkan sampai anak berusia dua tahun dan sejak usia tujuh bulan dapat diberikan makanan tambahan berupa makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) yang telah disediakan pemerintah,” kata Menkes.

Untuk korban letusan Gunung Merapi, Kementerian Kesehatan telah menyalurkan berbagai bantuan antara lain MP-ASI sebanyak enam ton, masing-masing untuk Kabupaten Magelang sebanyak dua ton, Provinsi DIY dua ton, Kabupaten Boyolai satu ton, dan Kabupaten Klaten satu ton. Sedangkan MP-ASI untuk korban tsunami Mentawai sebanyak 10 ton, masing-masing lima ton untuk Dinkes Provinsi Sumatra Barat dan lima ton untuk Dinkes Kabupaten Mentawai.

Menurut Menkes, ASI dapat memenuhi seluruh kebutuhan bayi dan keunggulannya tidak bisa digantikan dengan susu lain. ASI aman, bersih, dan mengandung zat-zat kekebalan tubuh yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit.

Hasil survei yang dilakukan oleh UNICEF, satu bulan setelah gempa Yogyakarta tahun 2006 menunjukkan bahwa tiga dari empat keluarga dengan anak-anak di bawah usia enam bulan menerima bantuan susu formula. Survei ini juga menunjukkan bahwa terjadinya peningkatan pemberian susu formula dari 32 persen pada saat sebelum bencana menjadi 43 persen setelah bencana.

Akibatnya, kasus diare di kalangan bayi di bawah usia enam bulan yang mendapatkan susu formula menjadi dua kali lipat (25,4 persen) dibandingkan dengan bayi-bayi yang tidak mendapat susu formula (11,5 persen). Kasus diare di kalangan anak usia antara enam bulan sampai 23 bulan juga meningkat sebanyak lima kali lipat dibandingkan dengan sebelum bencana.

Susu formula dan susu bubuk merupakan sumbangan yang banyak diberikan dalam keadaan darurat. Sayangnya pembagian produk ini seringkali tidak terkontrol dan dikonsumsi oleh bayi dan anak-anak yang masih perlu mendapat ASI. Dalam keadaaan bencana, kondisi lingkungan biasanya memburuk dan persediaan air terbatas, sehingga sangat penting bagi para Ibu untuk tetap memberikan ASI kepada anak mereka.

Sumber: Republika Online